Posts

Showing posts with the label masyarakat

Peluang Bisnis Kesehatan

Disini, di Cikarang, bisnis kesehatan sangat menggiurkan. Buktinya, di pelosok-pelosok kampung tersedia klinik-klinik kesehatan lengkap dengan dokter praktiknya. Ibu-ibu bidan dan mantri-mantri kesehatan juga sedia. Rumah sakit pun boleh dibilang banyak. Kalo punya duit dan punya sumberdaya manusia, segera saja bikin tempat pelayanan kesehatan. Mengapa begitu optimis dengan peluang usaha bidang layanan kesehatan? sederhana saja, karena permintaan akan terus ada. Cikarang identik dengan kawasan industri. Sebut saja Kawasan Industri Jababeka, Hyundai, dan East Jakarta Industrial Park (EJIP). Dalam tiap kawasan tersebut ribuan pabrik berdiri dan terus bertumbuh. Skala produksi membesar diikuti pertambahan jumlah karyawan. Buruh pabrik adalah pasar potensial bagi layanan kesehatan. Kenapa? Upah bulanan dipakai untuk beli pulsa handphone. Harga barang terus melambung, daya beli turun karena penyesuaian upah tak masuk akal. Buruh Indonesia bekerja long shift hanya dengan makan mie insta...

Lupa

# saudara seimanku membakar jakarta saudara seimanku meminta-minta tuk bangun masjid raya sama seperti aku lupa pada tuju #

Negeri Formalindonesia

Saya kaget saat melihat hits pada statcounter blog ini pagi tadi (3 januari 06). Seingat saya sampai kemarin pagi (2 januari 06 tentunya) counter belum menyentuh angka 400 (rata-rata cuma 6 hits perhari itu juga paling awan, catuy dan orang2 yang abis liat blog awan dan catuy hehehe). Namun pagi tadi angka 424 telah menclok di counter. Untuk ukuran blog yang tak terurus dengan materi-materi yang tak up to date tentunya saya binun. Apa pasal sehingga dalam sehari dagangan saya begitu laris manis tanjung kimpul. Setelah dicek ternyata bakso tikus lah penyebabnya. Dalam postingan sebelumnya saya sempat menulis mengenai pedagang bakso yang dituduh menjual bakso tikus di dekat kantor. Terlepas dari isinya, ternyata kata “bakso tikus” sedang popular saat ini. Terbukti mayoritas pembaca blog saya kemaren adalah mereka yang searching dengan kata kunci bakso tikus. Terima kasih buat bakso tikus yang telah mengangkat popularitas blog kusut ini. Turut berduka cita untuk konsumen di seluruh penju...

Bakso Tikus Dekat Kantor ???

Beberapa hari ini isu bakso tikus bergulir di kantor. Seorang rekan dengan bersemangat berkeliling mempromosikan berita tentang bakso tikus kepada setiap orang yang ditemuinya, tak lupa tentunya dengan membawa print out email yang diterimanya sebagai bahan presentasi. Ada beberapa hal yang menurutku membuat berita itu begitu cepat tersebar. Pertama dari faktor lokasi, penjual bakso tersebut dekat dengan kantor, sehingga kemungkinan untuk mengkonsumsi bakso tersebut dengan sengaja atau tak sengaja lebih besar dibanding jika lokasinya jauh dari kantor. Kemungkinan anak, istri, keluarga atau teman untuk mengkonsumsinya juga lebih besar, karena jaraknya tak terlalu jauh dari rumah. Faktor kedua adalah bakso tersebut termasuk dalam jajaran atas bakso terlaris di Cikarang, jadi bayangkan jika benar baksonya dari daging tikus, berapa orang yang sudah jadi pemakan tikus (tikusvora). Faktor ketiga , sumber beritanya dari internet, yang bagi sebagian teman di kantor sumber tersebut adalah terp...

Maaf Kita Belum Bisa Bantu

Rasanya ingin marah saja, andai saja dalam hati ini tidak tersedia slot "kartu sabar" onboard, mungkin sudah acak-acakan isi kantor. Coba gimana ga dongkol kalo orang seenak pusernya sendiri ga pake perasaan berlaku di hadapan mata ini. 5 menit sebelumnya, tampang beliau begitu ramah, sopan, senyum, santun, begitu penolakan disampaikan, serrrr.... langsung pergi tanpa basa-basi, tanpa izin, tanpa noleh. Puahh... 1 jam sebelum kejadian itu... "Pak, gimana kemajuan proposal? udah di setujui" "Wah, mohon maaf pak, atasan saya belum kasih instruksi ke saya, dan kebetulan sekarang lagi dipanggil direksi, kalo bapak butuh jawaban sekarang silakan tunggu, kalo tidak, nanti saya sampaikan hasilnya via telpon" "Ga papa pak, saya tunggu aja" "Oke silakan, saya tinggal dulu ya pak, saya masih ada kerjaan" "Silakan pak" 45 menit setelah itu... "Lagi dimana bu? ada tamu nanyain proposal" "Masih di kantor direksi, s...

(3,5 VS 3,55)

Suatu hari seorang teman kantor mendatangi rekan kerja di sebelah meja saya. Saya tidak cukup mengenalnya sehingga saya cuma mendengarkan kisahnya saja. "Saya mau protes ke komandan Mang Oni" katanya dengan muka sekeras batu kali "Emangnya kamu mau protes apa?" "Masak nilai saya dengan si A jauh banget bedanya, padahal kita berdua kan satu regu" teman saya ini adalah sekuriti di perusahaan saya. "lha kita kalo tugas bareng... kerjaannya sama, giliran nilai beda" Oalah... urusan bonus rupanya... pantes aja nanyain nilai. Maklumlah, bulan-bulan ini perusahaan sedang bagi-bagi bonus tahunan, tentu saja ukurannya prestasi kerja berdasarkan penilaian atasan, jadi kalo bonus rada kurang memuaskan, maka siapa lagi yang salah kalo bukan atasan langsung. "Emang nilai kamu berapa??" "Tiga koma lima" "Lah nilai si A berapa?" "Tiga koma lima lima, jauh banget kan? beda lima puluh" Kepala ini rasanya cenut-c...

Mau Peran Apa ?

Cara pandang kita terhadap kemiskinan akan menentukan sikap yang kita ambil terhadap kemiskinan. Kemiskinan dapat dilihat dengan konsep kondisi tidak memiliki sesuatu. Sebaliknya dapat pula dilihat sebagai kondisi tidak mampu memanfaatkan sesuatu yang dimiliki. Benarkah demikian??? Terserah kalo anda hanya melihatnya sebagai akal-akalan semantik saja. Trus apa?? Dengan cara pandang yang pertama, orang-orang yang merasa terpanggil untuk ikut memberantas kemiskinan akan memilih tindakan untuk menyediakan apa-apa yang tidak dimiliki si miskin. Si miskin di lihat sebagai objek yang patut dilengkapi dan dipenuhi kebutuhannya, tentu saja oleh yang merasa mampu memberi tadi. Di sebelahnya, cara pandang yang kedua mengajak kita untuk melihat si miskin sebagai subjek. Si miskin adalah "Aktor Utama" yang memiliki sumber daya, sumber dana, sumber asa namun menghadapi "benteng" yang sulit ditembus. Dengan demikian intervensi yang dilakukan adalah mengupayakan si aktor untuk d...