kalau tak salah aku bertutur sepekan atau kurang lebih dua yang kemarin pada pekan yang menyesakkan dan pada tanah yang sama seperti purnama-purnama lalu hari-hari begitu keji dan memilu hawa malam memekat kental jejadian menghisap ubun-ubun jiwa yang beku kemudian siang benderang adalah keterikan memuncak menjejalkan semua amarah, dendam dan perih dan pada tanah itu telah membentang luasan kerinduan pada-Nya hanya angin yang sepoi meniupkan kepastian pembalasan pada semua pengorbanan terhembus di antara desing, deru dan gemuruh takbir entah kepasrahan lalu lembayung turun pada semua keletihan dan getir api, angin, awan, debu dan deru merunduk pada jiwa murni yang terluka pada hari ini di tanah ini seperti hari, pekan dan purnama yang lalu keadilan hanyalah omong kosong lalu kita cuma sebuah partikel bimbang dalam perjuangan mencarinya dengan kendaraan darah dan bekal air mata Bandung, suatu hari di tahun yang terlupa