Posts

Showing posts with the label sajak

kamu

lama sudah kata terakhir tergores untukmu bukan karena ada yang hilang di dada ini tapi karena terlalu berarti engkau bagiku adalah hari yang semakin, bulan yang semakin, tahun yang semakin mengenggankanku lepas dari dekapmu Kota Tua, 26 Januari 2010

Lupa

# saudara seimanku membakar jakarta saudara seimanku meminta-minta tuk bangun masjid raya sama seperti aku lupa pada tuju #

eman-si-pasti

bolehkah kutukar sarungku dengan hot pants mu usah gerah ku lelaki ber-ingin seksi mata perempuan nelanjangi auratku adalah puja bagiku dan sempurna lah kau jadi hambaku

rindu

aku menggapai-gapai kau... tidak... aku cuma coba menggapai-gapai kau... ah... tidak cuma niat ku di dada coba menggapai-gapai kau aih... nyata ku cuma beku dalam rindu... mana rupa mana rasa ? sebab itu alasan ku merindu...

Menawar Gelisah

siapa sedang berkata aku membeli luka dari duka yang kau jajakan siapa sedang berkata aku sedang menawar derita menghimpun jerih dari dera yang kau dagangkan derap apa ini di dada? sungguh rentak di segala juru telapak-telapaknya menjengkali tiap perih jemarinya mencengkram getir tanpa henti cakar-cakarnya menyeruak dalam ke bilik-bilik hati ia menghisap segala di nadi seolah tak kurang rajam ia nistakan sisa-sisa kalbu apakah lagi yang kau umbar? sedang tak ada lagi yang tersisa untuk dibeli bahkan harapan pun telah menguap di sela-sela debu juga impian yang kerap menemani malam-malam dingin kami Telah kering bersama langit yang menggumpal siapa berkata aku membeli luka? aku tertawa karena kelak kau yang mencumbu siksa 7 Desember 05 ~mencarisisasisaharapandalamgelisahsetelahhujan~

[dalam] Tiap Kerjap

Tuhan... di setiap kerjap, dada ini selalu berdebar menatap setiap adegan kehidupan yang kau tayangkan, aku tergetar episode dua hati yang kau persatukan dalam rumah suci pernikahan menundukkan hati ini jadi gugup dialog kagum perempuan memuja-Mu atas rahim yang Kau takdirkan baginya meretakkan hati ini jadi ringkih bahkan potongan naskah tentang lelaki yang rindu menjelma benih masa kecilnya meremuk redam sgala logika Tuhan... di setiap kerjap, yang kulihat hanya kuasa-Mu

Revolusi Pagi

dari kegelapan malam yang syahdu dan kadang membuat gigil, fajar pagi menawarkan kehangatan mentari, hanya dalam hitungan beberapa kejap, kelam kan menguap diserobok kemilau cahaya apalagi namanya kalau bukan revolusi pagi?

Aku Gak Cari Sastrawati Kok !

# kamu bilang: "maaf, aku gak bisa tulis puisi, aku gak pandai berkata-kata" aku bilang: "gak apa-apa" "aku tidak sedang mencari sastrawati kok, juga gak cari penyair-wati" ## asal kamu tau saja, aku benar-benar lumpuh olehmu lumpuh dan layu, virusmu terlalu perkasa bahkan kadang ego ini tak mampu berdiri di kakinya sendiri kehadiranmu adalah gurindam aku slalu digurui bait-bait lakumu kesabaranmu adalah pantun aku tertawa, terharu dan tersindir karenanya perhatianmu adalah syair kau selalu lihat kan bagaimana aku selalu tersanjung diam mu adalah cerita misteri aku butuh ratusan momen untuk memahaminya ketiadaanmu adalah satire aku selalu tampak bodoh karena rindu ### aku bertanya: "kau adalah puisi terindah" "siapakah penyairnya???" 18.00\30 juni 2005\cikarang

Hari di Atas Jihad ???

kalau tak salah aku bertutur sepekan atau kurang lebih dua yang kemarin pada pekan yang menyesakkan dan pada tanah yang sama seperti purnama-purnama lalu hari-hari begitu keji dan memilu hawa malam memekat kental jejadian menghisap ubun-ubun jiwa yang beku kemudian siang benderang adalah keterikan memuncak menjejalkan semua amarah, dendam dan perih dan pada tanah itu telah membentang luasan kerinduan pada-Nya hanya angin yang sepoi meniupkan kepastian pembalasan pada semua pengorbanan terhembus di antara desing, deru dan gemuruh takbir entah kepasrahan lalu lembayung turun pada semua keletihan dan getir api, angin, awan, debu dan deru merunduk pada jiwa murni yang terluka pada hari ini di tanah ini seperti hari, pekan dan purnama yang lalu keadilan hanyalah omong kosong lalu kita cuma sebuah partikel bimbang dalam perjuangan mencarinya dengan kendaraan darah dan bekal air mata Bandung, suatu hari di tahun yang terlupa

Gunung

Tuhan berbicara tentang gunung ketika kau dan aku kini sedang memandanginya kaki-kaki perkasa dan tegar dari kesadaran akan kelemahan yang terpatri dalam ke dasar bumi jiwa kita punggungan leher terjal mendaki dari kerasnya hati dan tekad yang mencari-cari arah pencapaian masa depan yang entah kini ada dimana Tuhan berbicara tentang gunung ketika kau dan aku kini memandanginya terpancang dipayungi langit lembayung senja hidup kita puncak-puncak pengharapan yang terus menerus menggapai-gapai keinginan akan kebahagiaan yang terlahir dari kerinduan pada-Nya Tuhan berbicara tentang gunung ketika kau dan aku kini tlah berdiri di puncaknya. maret 2001, Bandung

Ingin

ingin aku berlabuh tapi laut tetap tak bertepi dan tiang-tiang layar terus lapuk dan makin rapuh hingga luruh pada samudra kehilangan ingin aku bersandar... namun sauh tak lagi jadi patri dan temali kian letih menyimpul sepi lalu jika kupaksa beringin, maka ingin kuciumi dataran hari di mana siang dan malam berarti kesetiaan dan penantian kasih ingin aku pada semua dan segala karena ombak tak lagi jadi kekasih di kala badai

Kronologi Matinya Hati

I. demi Tuhan kau memabukkan tak mungkir aku terpana semerbak wangi yang kuhirup dari tebaran jiwa dan percik madu yang kureguk setelah 3 detik permulaan ini Puahhhh...!!! kujampi kau dalam gilaku II. cuma satu menit kumuntahkan setelah setahun lebih kebimbangan kubiarkan mengakar menyeragamkan ideologi sel-sel hatiku untuk menyepakati kehadiranmu setelah satu menit semua emosi mengkudeta darah dan berpendar merahlah semua dalam jeritan penafikan kau iris kepasrahanku III. maka kau bergerak searah darah di venaku mendekat ke jantung bergejolak di dalamnya lalu pergi dalam denyut nadi kehilangan bdg, 230801

Saat Aku Terbata

Bukan pekerjaan mudah untuk menghadirkan keindahan saat bersama. Bahkan di saat segalanya seakan tak berpihak pada kita. Hanya pribadi-pribadi yang tulus dan penuh dengan kasih lah yang bisa menciptanya. Dan lebih dari sekedar keberuntungan jika pribadi itu berjanji setia untuk selalu ada di sisi kita. Karena kita tak akan pernah tau apa yang akan kita hadapi, hingga kita akan selalu merasakan kekuatan saat seseorang selalu ada bersama kita. Dan aku sangat bersyukur pada-Nya atas takdir yang sampai saat ini memungkinkan pribadi itu selalu ada tepat di hatiku.

paradoks dua sisi hati

Kepadamu aku pernah berkata bahwa kau adalah aku yang terus memuja-muja keindahan lelap, yang senantiasa mempersembahkan kealpaan di relung buminya, yang esok pagi entah menjadi apa dan berpihak pada mana kau adalah aku yang menyepi dari diri mencari rupa dan raga

kepastian esok hari

mentari tetaplah terbit di barat bergulir berlarian, bercengkrama dibuaian pelangi rinai jingga sore hari, lalu berperadu di kelon bunda jagat raya bulan tetaplah merindu malam, menyenandung rindu dendam kilau dibalik kaca jendela, berserobok bebintang lalu tersipu memerah malu akupun tetaplah hampa, kosong, sepi, sekarat lalu mati esok pagi tetaplah terus menerus yang memuakkan